Kisah ini terjadi secara nyata pada sebuah keluarga. Hari itu, sang ayah sedang pergi keluar rumah dan tinggallah ibu dan anaknya, Kayla di rumah. Kayla adalah anak yang baru berumur lima tahun dan saat itu sedang batuk pilek. Saat batuk pilek, tentu keadaan tubuh tidak begitu nyaman.

Pada hari itu juga, karena lupa membayar biaya bulanan televisi langganan, mereka juga tidak bisa nonton tayangan kesukaan mereka. Kayla yang menyukai acara televisi anak-anak, Nickelodeon, akhirnya tidak bisa nonton. Di tengah situasi seperti itu, untungnya ada alat permainan. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk main game bernama Rio, game kesukaan Kayla.

Setelah main beberapa waktu, Kayla bilang pada ibunya kalau permainan rusak. Jadi sang ibu mencoba memutar ulang permainan tersebut. Ternyata, secara tak sengaja, sang ibu salah memencet tombol download yang menyebabkan permainan-permainan yang ada terhapus. Bukannya marah, nangis, ataupun ngambek, si anak malah melakukan suatu hal yang luar biasa.

Malam harinya, ketika hendak pergi tidur, di dalam keluarga ini ada doa malam bersama. Kayla berdoa kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan buat mama dan papa, kedua orangtuaku yang kerja. Terima kasih Tuhan, TV-nya ga ada Nickelodeon-nya, terima kasih Tuhan mami hilangin game Rio-nya. Terima kasih Tuhan Kayla batuk pilek. Haleluya, amin.”

Di tengah berbagai situasi yang tidak enak yang dihadapi Kayla hari itu, kondisi tubuh yang tidak fit, tidak bisa menonton tayangan kesukaannya, game kesukaannya terhapus, Kayla tetap mengucapkan terima kasih.

Jika Tuhan Yesus mengatakan agar kita harus seperti anak kecil, mungkin sikap seperti inilah yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita. Bukan hanya di saat senang, kita mampu berterima kasih kepada-Nya tapi di saat kita sedang susah sekalipun. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana sikap hati kita dalam menghadapi sebuah masalah. Apakah kita bersungut-sungut atau malah mampu terus bersyukur?